Kisah Facebook dan WhatsApp

Facebook may have to sell Whatsapp and Instagram | Information Age | ACS

By: Sonny Zulhuda

Waktu membeli WhatsApp pada tahun 2014, Facebook merogoh kantong sangat sangat dalam: 19 milyar Dolar Amerika, atau sekitar 268 trilyun rupiah. Banyak yang terkezut zut.. kok bisa semahal itu? Padahal saat itu WhatsApp adalah SMS tanpa iklan. Darimana keuntungan akan didapat oleh Facebook?

Kuncinya ada di beberapa hal: Pertama, perkembangan pengguna WhatsApp yang sangat cepat dan merata tidak hanya di negara maju namun juga di negera berkembang. Sebut saja India, Brazil, Indonesia dan negara-negara di belahan benua Afrika. Ini wajar karena WhatsApp menawarkan jasa SMS yang sangat murah, mudah dan tidak memakan biaya pengiriman pesan.

Perkembangan dan penyebaran ini sangat menarik bagi Facebook karena saat itu Facebook ingin melebarkan sayap mereka dengan agenda gobalisasi koneksitas Internet melalui Internet.org. Facebook ingin membangun Internet untuk kemanusiaan. Untuk itu, maka Facebook berusaha untuk memperluas pengaruh dan juga basis pasar mereka. Diharapkan dengan menguasai WhatsApp, upaya Facebook akan lebih lancar car car…

Kedua, kekayaan data WhatsApp. Siapa yang tidak tergiur dengan aset data yang dimiliki oleh WhatsApp? Saat ini, dengan pengguna melebihi 2 milyar pengguna yang memberikan akses buku telpon mereka serta mengirim 65 milyar (65,000,000,000) pesan per hari, kira-kira data apa yang luput dari genggaman pemiliknya? 🙂

Whatsapp memang menerapkan “end-to-end encryption”, artinya tidak ada pihak ketiga (termasuk WhatsApp) sendiri yang bisa mengakses isi informasi yang lalu lalang antara pengirim dan penerima. Namun diluar itu ada data pribadi pengguna (yang jumlahnya lebih dari 2,000,000,000 itu), data kontak milik masing-masing pengguna (karena WhatsAppa dapat mengakses semua nomor kontak yang ada di dawai pengguna) dan juga yang tak kalah strategis adalah data lokasi serta data perilaku (behavioral data) pengguna WhatsApp.

Sebenarnya Komisi Eropa sudah mengawasi kemungkinan ini. Maka pada tahun 2014 ketika membeli WhatsApp, Facebook menjamin bahwa mereka “tidak akan bisa” melakukan pencocokan dan sinkronisasi data pengguna antara Facebook dan WhatsApp. Jika terjadi maka ini akan menimbulkan kericuhan konsumen terkait privasi data. Karena pada dasarnya, data pengguna di sebuah entitas (dalam hal ini WhatsApp) tidak boleh digunakan oleh entitas lain (yaitu Facebook) tanpa izin dari individu tersebut, yaitu kita semua yang menggunakan produk tersebut.

Namun apa nyana, pada tahun 2017 tersiar kabar bahwa Komisi Erope mendenda Facebook sebanyak 110 juta Euro karena mereka memberikan pengakuan yang mengelirukan terkait data WhatsApp. Ini karena ditemui bahwa Facebook sebenarnya “bisa” dan “telah” melakukan hal itu. Denda yang dikenakan mungkin tidak seberapa bagi Facebook, namun komisioner Kompetisi Uni Eropa, Margrethe Vestager berharap denda itu menjadi sinyal bagi semua pebisnis yang melakukan pengambilalihan (merger) perusahaan agar menaati segala aturan Uni Eropa.

Terkait dengan kebijakan terbaru tentang penggunaan data pengguna WhatsApp yang akan disinergikan oleh Facebook, bagaimana kira-kira ke depannya? Kita tunggu dan lihat, apakah akan ada “pemberontakan” dari para pengguna, atau reaksi litigatif dari para regulator?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s